Menjadikan Pantai Anging Mammiri Sebagai Sajadah Alam Pembersih Jiwa
Admin, Mitrasulsel.info
September, 27 2026
Makassar#Mitrasulsel.info# Oleh: Syarifuddin Liwang / Syarli
( Founder posko Yatim, pengasuh Majelis Syarifiyah, Pembina Ikatan Dai Muda Indonesia ( IDMI), Pembina Ikatan Dai Sulawesi Selatan ( IKDA SUL- SEL) dan Pembina Lembaga Dakwah Darus syarifiyah ( LDDS)
Kehidupan sehari-hari sering kali membuat kita merasa lelah bukan hanya lelah fisik, melainkan juga lelah pikiran dan jiwa. Masalah pekerjaan, urusan keluarga, hingga kecemasan tentang masa depan kerap menumpuk menjadi beban yang berat. Di saat seperti itulah, fajar yang merekah di ufuk timur hadir sebagai pelipur lara. Ketika cahaya matahari pagi mulai mengusir kegelapan malam, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebenarnya sedang memberikan simbol bahwa setiap kesulitan pasti akan berganti dengan kemudahan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita untuk memperhatikan pergantian waktu ini dalam QS. Ali ‘Imran: 190:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”
Ibnu Abbas RA pernah berkata bahwa memandang keindahan alam di waktu subuh dan fajar bisa mengobati hati yang sedang gundah.
Ulama besar Imam Hasan al-Bashri juga menambahkan bahwa setiap pagi datang, hari itu menyeru manusia untuk mengisi lembaran baru dengan kebaikan, meninggalkan kesedihan hari kemarin.
Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat orang yang pergi ke pantai di pagi hari setelah seminggu penuh didera stres kerja (burnout). Begitu mereka melihat matahari terbit, ada rasa lega yang luar biasa. Beban pikiran seolah runtuh, digantikan oleh harapan baru yang hangat.
Bagi sebagian orang, healing atau menenangkan diri sering kali diartikan dengan pergi ke tempat hiburan yang mahal.
Namun bagi saya, di Pantai Anging Mammiri, kita bisa menjadikannya sebagai bentuk penyembuhan jiwa yang jauh lebih indah dan gratis. Pantai ini berubah fungsi menjadi layaknya “sajadah alam” yang sangat luas. Di atas hamparan pasirnya, orang-orang datang bukan sekadar untuk berjalan, melainkan untuk melarikan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia demi mendekatkan diri kepada Pencipta alam semesta.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menganjurkan kita untuk menikmati kesehatan dan kekuatan yang Allah berikan melalui alam, sebagaimana sabdanya:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Imam Muslim)
Umar bin Khattab RA juga berpesan, “Ajarilah anak-anakmu berenang…”
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa bergerak aktif di alam terbuka, seperti berenang di laut, berkhasiat membuang racun-racun kesedihan dan energi negatif dari dalam dada.
Contoh nyatanya, saat saya melihat warga paruh baya atau lansia yang berendam di air laut Anging Mammiri sambil tersenyum ramah menyapa tetangga di sebelahnya. Air laut menjadi terapi fisik bagi sendi-sendi mereka yang linu, sementara suasana pantai yang hangat menjadi terapi sosial yang menyembuhkan rasa kesepian mereka.
Daya tarik utama dari Anging Mammiri bisa dijadikan “sajadah alam” karena suasananya yang magis. Di antara kayuhan tangan warga yang berenang dan buih ombak yang pecah di bibir pantai, mengalir untaian zikir yang lirih dari hati para pengunjung yang sadar diri. Suara deburan ombak yang beraturan berpadu dengan ketukan zikir di dalam dada mereka, menciptakan sebuah ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan materi. Di sinilah hati yang gundah menemukan obatnya, sesuai firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِFْكرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Abu Darda RA menegaskan: “Merenungkan (tafakur) kebesaran Allah sesaat, jauh lebih menenangkan jiwa daripada sekadar duduk melamun.”
Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa merenungi keajaiban ciptaan Allah (seperti lautan luas) bisa meningkatkan kualitas keimanan seseorang melebihi ibadah sunah yang dilakukan tanpa penghayatan.
Bayangkan contoh konkret ini: Anda duduk di tepi Pantai Anging Mammiri, memandang garis cakrawala laut yang tak berujung. Tiba-tiba Anda sadar, betapa kecilnya masalah hidup Anda dibandingkan luasnya samudra ciptaan Allah ini. Saat mulut berbisik “Subhanallah”, seketika rasa cemas tentang hari esok mereda karena Anda tahu, Allah yang merawat laut luas ini pasti akan merawat hidup Anda pula.
Kunjungan masyarakat ke Pantai Anging Mammiri, terutama di waktu akhir pekan (weekend) ini, memberikan pelajaran berharga bahwa menjaga kesehatan raga melalui berenang memang penting, tetapi menjaga kesehatan jiwa dengan bersyukur di atas “sajadah alam” jauh lebih utama. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Pada akhirnya, melodi pagi di pantai ini mengajarkan kita bahwa healing terbaik adalah kembali kepada Allah. Kita datang ke pantai membawa jiwa yang lelah dan penat, lalu kita pulang membawa raga yang segar, pikiran yang jernih, serta hati yang penuh dengan rasa syukur.
Pantai Anging Mammiri, Ahad, 27 September 2026 / 15 Rabiul Akhir 1448 H. (#)
Pewarta, Syarli

