Biarkan Karyamu yang Berbicara, Bukan Klarifikasimu

Oleh: Syarifuddin Liwang (Syari)
Founder Posko Yatim, Pengasuh Majelis Syarifiyah, Pembina IKDA Sulsel, Pembina IDMI, dan Rois Masjid Kampung Amanah
Admin, Mitrasulsel.info
Agustus, 29 2026
Makassar#Mitrasulsel.info#Tidak semua tudingan harus dijawab. Tidak semua fitnah harus dilayani. Tidak semua kebencian harus dibalas dengan kemarahan.
Terkadang, jawaban terbaik terhadap orang yang sibuk menjatuhkan kita bukanlah klarifikasi panjang, melainkan karya nyata.
Di tengah derasnya arus media sosial, banyak orang menghabiskan energi hanya untuk membalas komentar, menjawab cibiran, meluruskan gosip, dan menghadapi orang-orang yang memang tidak berniat memahami kebenaran.
Padahal, semakin kita sibuk melayani kebencian, semakin besar pula ruang yang kita berikan kepada kebencian itu untuk menguasai hidup kita.
Allah SWT telah memberikan teladan tentang bagaimana seorang hamba yang beriman menghadapi orang-orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik.
Dalam Surah Al-Furqan ayat 63 disebutkan:
> وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya:
“Apabila orang-orang bodoh menyapa mereka dengan perkataan yang tidak baik, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”
Demikian pula Rasulullah SAW mengajarkan:
> مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Diam bukan berarti takut. Diam bukan berarti kalah.
Terkadang diam adalah bentuk kekuatan. Sebab tidak semua orang pantas mendapatkan waktu, perhatian, dan energi kita.
Orang yang sibuk membangun tidak akan memiliki banyak waktu untuk merobohkan orang lain.
Orang yang fokus berkarya tidak akan terlalu sibuk membalas setiap cibiran.
Dan orang yang memiliki tujuan hidup tidak akan mudah kehilangan arah hanya karena suara-suara yang datang dari mereka yang tidak memahami perjalanan hidupnya.
Imam Syafi’i pernah memberikan nasihat melalui syairnya:
> إِذَا نَطَقَ السَّفِيهُ فَلَا تُجِبْهُ
> فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوتُ
Artinya:
“Jika orang bodoh berbicara kepadamu, janganlah engkau menjawabnya. Sebab sebaik-baik jawaban baginya adalah diam.”
Di era media sosial, prinsip ini semakin relevan.
Ketika seseorang diserang dengan komentar negatif, fitnah, atau narasi yang tidak benar, pilihan terbaik tidak selalu membuat klarifikasi setiap hari. Terkadang, cukup terus bekerja, terus berbuat baik, dan terus menghasilkan karya.
Biarkan prestasi menjawab keraguan.
Biarkan integritas menjawab tudingan.
Biarkan manfaat menjawab kebencian.
Sebab pada akhirnya, masyarakat akan mampu melihat siapa yang benar-benar bekerja dan siapa yang hanya sibuk berbicara.
Energi hidup terlalu mahal untuk dihabiskan dalam perdebatan yang tidak menghasilkan apa-apa.
Gunakan energi itu untuk membantu sesama, memperbaiki diri, membangun keluarga, memperkuat persaudaraan, memperbanyak amal, dan menciptakan karya yang memberi manfaat.
Karena sejarah tidak akan terlalu lama mengingat siapa yang paling keras berbicara.
Namun, manusia akan lebih lama dikenang karena apa yang telah ia lakukan dan wariskan.
Maka, ketika fitnah datang, jangan selalu merasa harus menjawab.
Ketika kebencian muncul, jangan selalu merasa harus membalas.
Ketika cibiran terdengar, jangan selalu merasa harus memberikan klarifikasi.
Tetaplah berjalan. Tetaplah berbuat baik. Tetaplah berkarya.
Sebab pada akhirnya, **biarkan karyamu yang berbicara, bukan sibuk dengan klarifikasimu.
Makassar, Sabtu, 28 Agustus 2026 / 16 Rabiul Awal 1448 H
Syarifuddin Liwang (Syari)

