Hari Pendidikan 2026: Kesejahteraan Guru Masih Jauh dari Harapan
Admin,Mitrasulsel.info
Mei, 02 2026
Mitrasulsel.info||Gowa-Hari Pendidikan Nasional 2026 kembali hadir sebagai momen refleksi. Namun, di balik peringatan yang sarat seremoni, ada realitas yang tak bisa lagi ditutup-tutupi: kesejahteraan guru masih jauh dari kata layak.
Guru selalu ditempatkan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia. Mereka dituntut profesional, adaptif terhadap teknologi, bahkan menjadi agen perubahan sosial di tengah masyarakat. Tetapi ironisnya, tuntutan itu tidak berbanding lurus dengan kondisi kesejahteraan yang mereka terima.
Di berbagai daerah, terutama di luar kota besar, masih banyak guru honorer yang hidup dalam ketidakpastian. Gaji yang diterima sering kali tidak mencukupi kebutuhan dasar, bahkan ada yang berada di bawah standar upah minimum. Mereka mengajar dengan dedikasi tinggi, tetapi harus mencari pekerjaan sampingan untuk sekadar bertahan hidup. Dalam kondisi seperti ini, sulit berharap kualitas pendidikan bisa meningkat secara signifikan.
Persoalan ini bukan semata soal anggaran, melainkan juga soal keberpihakan. Kebijakan pendidikan kerap terjebak pada pembangunan fisik dan proyek jangka pendek, sementara investasi pada kesejahteraan guru masih dipandang sebagai beban, bukan kebutuhan strategis. Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas hidup para pendidiknya.
Lebih jauh, ketimpangan antara guru ASN dan non-ASN juga memperlebar jurang ketidakadilan. Program pengangkatan dan sertifikasi memang telah berjalan, tetapi belum sepenuhnya menyentuh akar masalah. Banyak guru yang telah mengabdi bertahun-tahun tetap berada dalam status yang tidak pasti.
Hari Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada slogan “merdeka belajar” atau retorika transformasi digital. Esensi pendidikan justru terletak pada manusia yang menjalankannya. Tanpa kesejahteraan yang memadai, guru hanya akan terus berada dalam posisi dilematis: mengabdi dengan idealisme, tetapi dihimpit realitas ekonomi.
Sudah saatnya negara mengambil langkah lebih berani dan konkret. Penataan sistem penggajian, kepastian status kepegawaian, serta distribusi guru yang adil harus menjadi prioritas utama. Pendidikan bukan sekadar investasi masa depan, tetapi juga cermin bagaimana negara memperlakukan mereka yang membangun masa depan itu.
Jika kesejahteraan guru terus diabaikan, maka Hari Pendidikan hanya akan menjadi rutinitas tahunan tanpa makna. Dan kita akan terus mengulang pertanyaan yang sama: untuk siapa sebenarnya pendidikan ini diperjuangkan?(#)
Oleh, Firdaus Rumah Cerdas Bajeng
Pewarta, Wahyudin,

