Potensi Perbedaan Awal Ramadan, Pengurus Masjid Sikapi Santai dan Kedepankan Persatuan Umat
Admin, Mitrasulsel.info
Februari, 13 2026
Gowa#Mitrasulsel.info#Memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, potensi perbedaan dalam penetapan awal puasa kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Perbedaan metode penentuan awal Ramadan, baik melalui rukyatul hilal maupun hisab, kerap memunculkan variasi waktu pelaksanaan ibadah puasa di sejumlah daerah.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia biasanya menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak, termasuk perwakilan ormas Islam dan ahli astronomi. Sementara itu, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama memiliki metode masing-masing dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Menyikapi hal tersebut, sejumlah pengurus masjid memilih bersikap santai dan bijak. Mereka menilai perbedaan adalah bagian dari dinamika umat yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Pengurus Masjid H. Jamaluddin Perumahan Saumata Indah, Syafruddin menyampaikan bahwa pihaknya tetap mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat, sembari tetap menghormati jamaah yang mengikuti keputusan organisasi masing-masing.
“Yang terpenting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah dan tidak saling menyalahkan. Perbedaan ini sudah sering terjadi dan masyarakat kini semakin dewasa dalam menyikapinya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Radius Pribadi selaku pengurus Masjid Hj. Andi Sulaeha Ambarala Perumahan Cendana Residence menuturkan bahwa dinamika perbedaan metode hisab dan rukyat merupakan hal yang wajar.
“Kami menyikapinya dengan santai dan terbuka. Fokus kami adalah memastikan seluruh rangkaian ibadah Ramadan berjalan lancar dan khusyuk,” katanya.
Arifin, pengurus Masjid Al Ikhlas, juga mengimbau agar jamaah tidak terprovokasi isu-isu yang berpotensi memecah belah.
“Perbedaan awal puasa bukan hal prinsip yang harus diperdebatkan. Yang utama adalah semangat beribadah dengan penuh keikhlasan dan menjaga persaudaraan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Remaja Masjid Annur, Nur Fajri Syam, mengajak generasi muda untuk bijak dalam menyikapi perbedaan, khususnya di media sosial.
“Mari jadikan Ramadan sebagai momentum mempererat ukhuwah dan memperbanyak amal. Remaja masjid siap membantu menjaga suasana tetap kondusif,” pungkasnya.
Dengan sikap dewasa, saling menghormati, dan mengedepankan persatuan, masyarakat diharapkan dapat menjalani bulan suci Ramadan dengan penuh kedamaian serta menjadikannya sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan kualitas ibadah.
Editor, Syam/Fajri

